Langsung ke konten utama

Postingan

Mencintai Arema itu Berat, Tapi ....

Mencintai Arema itu berat, apalagi jadi suporter di negeri ini. Tantangan terbesarnya adalah mengubah mindset masyarakat. Ya, seperti yang kita tahu, banyak masyarakat yang memandang suporter sebelah mata. Memandang dari sisi negatif. Yang tawuran, yang suka bikin masalah, pokoknya yang gak enak di dengar. Sebelum mengenal Arema, tak ada satu tim pun yang berhasil merebut hati saya. Saya bukan orang Malang, meski pun banyak yang mengira s aya orang Malang karena kefanatikan saya. Jangankan darah malang, darah biru Arema, Bapak dan Ibu saya bukan orang Malang. Tahun 2011 saya mengenal Arema lewat Bustomi. Di tahun itu pula saya bertemu dengan teman-teman Aremania Klaten. Dulu kecil, nyaman, dan saya menemukan keluarga baru. Sekarang besar, banyak anggota, tapi saya seperti kehilangan sesuatu. Entah apa.

Hukuman apa yang pantas untuk seorang plagiator? (Dimuat di Radar Mojokerto, 7 Agustus 2016)

Hukuman apa yang pantas untuk seorang plagiator? Pertanyaan ini mengusik benak saya, setelah kasus plagiasi terjadi lagi di ranah dunia literasi baru-baru ini. Tampaknya hukum sosial yang selama ini diterapkan tak jua membuat para oknum-oknum pencuri hasil kreativitas orang lain menjadi jera. Hal ini terbukti dari kasus yang menimpa Nanda Dyani Amilia. Sungguh sangat disayangkan, Nanda termasuk salah satu penulis muda yang cukup diakui publik kemampuannya, pernah memenangi beberapa event tapi kini tengah terjerat kasus plagiasi. Tindakannya itu cukup mencoreng namanya di mata publik.

Belajar dari Kasus Plagiasi NDA

Beberapa waktu yang lalu publoik sempat dikejutkan dengan sebuah kasus plagiasi. Dan pelakunya masih muda banget, kinyis-kinyis, cantik lagi, dan kecantikannya tentu saja melebihi saya. Ini bukan kali pertama kasus plagiasi terjadi di jagad literasi. Tapi jika dicermati lebih lanjut, kasus-kasus plagiasi kebanyakan berakhir gantung. Yah, sebelas dua belas sama nasib perasaanku sama kamu itu loh. #Apaan. Biar enggak tegang bacanya, emangnya ini cerita horor pakai tegang segala. :) Awalnya, ketika kasus plagiasi NDA (Tidak etis jika saya sebut namanya, saya belum siap dituntut mencemarkan nama baik. Nah, yang di media kemarin kok pakai nama terang-terangan? Iya juga sih). Kasus ini mencuat ketika bunda Reni TerataiAir mengunggah salah satu cerpen NDA yang berjudul Black Hole yang sama persis dengan cerpen yang pernah tayang di Majalah Story dengan judul A.L. Kasus ini langsung menarik perhatian massa. Banyak yang menyayangkan, kenapa NDA melakukan plagiasi ini? Demi uang-kah? Ketenaran...

Daftar Nama Alamat Media

1. Sastra Sumbar: sastrasumbar@yahoo.c­om  2. Padang Ekspres: cerpen_puisi@yahoo.c­om  3. Analisa: rajabatak@ yahoo.com  4. Radar Surabaya: radarsurabaya@yahoo com dan diptareza@yahoo.co.i­d  5. Malang Post: redaksi@malang-post.­com  6. Radar Malang: sastraradarmalang@gm­ ail.com  7. Pikiran Rakyat: khazanah@pikira n-rakyat.com  8. Flores Sastra: floressastra@gmail.c­om

Puisi Embun di Batas Senja, dimusikalisasi oleh Om Yuditeha

Embun di Batas Senja Di matamu kusimpan segala teduh, penat dan segala rasa yang pernah Tuhan titipkan Embun yang kucuri dari pagi, binar yang kucuri dari malam, kuselipkan di matamu. Kau tak akan menemukanku dalam terpal senja bermandikan cahaya. Sebab aku hidup pada jalanan yang tak asing dengan debu yang gersang Aku hidup pada tiaptiap lorong gelap, tempat anjing melolong yang menakutimu sebelum tidur Entah, bagaimana kujabarkan embun di matamu yang merekah ditiap pagi, pada jalan yang kini menjadi tugu di mana hatiku kutawankan padamu Rambutmu menari seiring sepoi aku hanyut di matamu, tak terselamatkan Tenggelam dalam getirgetir yang kutelan sendiri Biar aku saja yang mati asal bukan Kau! Sebab di matamu aku hidup di balik embun yang membasahi setiap binarmu, aku reduh Luluh, jatuh, dan bertekuk lutut Padamu, embun pagi di setiap detak nadiku.

Rempongnya Buber Keluarga Besar; Kerempongan yang berakhir bahagia

Awal ramadhan saya pernah membuat keinginan kecil dan sederhana, dan baru kesampaian kemarin. Keinginan saya sangat sederhana, “Saya ingin buka bersama dengan keluarga formasi lengkap.” Dan entah ada angin darimana tiba-tiba saja kakak kedua saya ngajakin buka bersama sekeluarga. Gak hanya sekeluarga, ini sama tetangga dan keponakan-keponakan juga.

Review Book: Kidung Sang Kekasih-Novanka Raja, Bahasa Cinta Tak Selalu Harus Rumit

Cinta memang rumit, tapi tak selamanya cinta harus diungkapkan dengan bahasa-bahasa yang rumit. Seperti buku Kidung Sang Kekasih, buku yang ditulis Bang Novanka Raja ini bukanlah sesuatu yang rumit, walau sebenarnya membahas hal-hal yang rumit soal cinta. Puisi-puisi di dalam buku ini sederhana, namun punya makna yang dalam. Cinta, kerinduan, patah hati, perpisahan, pertemuan menjadi satu dalam buku ini. Menyelaminya seperti tersesat dalam ribuan perasaan yang terkadang bisa membuatmu hanyut.