Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dengan label Radar Mojokerto

Jurus Menulis Tanpa Beban (Dimuat di Radar Mojokerto, 30 April 2017)

            ”Jika kamu menulis dengan beban, maka yang kau hasilkan adalah beban, bukan sebuah tulisan.” (Asef Saeful Anwar) 1.       Menulis Bukanlah Beban Menulis bukanlah suatu beban, meski terkadang cukup menguras tenaga dan pikiran. Dalam suatu diskusi di Festival Sastra Basabasi yang digelar Sabtu, 22 April 2017, Asef Saeful Anwar mengatakan bahwa menulis bukanlah suatu beban. Penulis Al Kudus ini juga memberikan beberapa tips mengenai menulis prosa. Didampingi oleh Eko Triono sebagai moderator, Asef Saeful Anwar dan Ken Hanggara membuka sesi diskusi dengan menceritakan proses kreatif mereka.

Mencari “Suara” Seorang Penulis (Dimuat di Radar Mojokerto 2 April 2017)

            “Jadilah dirimu sendiri dalam menulis. Cari suaramu.” (Primadona Angela)             Menulis adalah sebuah kebebasan. Bagi saya menulis adalah kebebasan seseorang untuk mengungkapkan gagasan atau ide yang ada di kepala. Lain lagi dengan Gunawan Tri Atmodjo yang pernah berkata, menulis menghibur diri sendiri.

Esai "Sastra, Humor, dan Realita" (Dimuat di Radar Mojokerto, 4 Desember 2016)

"Menulis adalah cara saya menghibur diri sendiri. Seseorang tidak bisa menghibur orang lain jika tidak bisa menghibur dirinya sendiri." (Gunawan Tri Atmodjo). 1. Sastra dan Humor Seringkali kita membaca cerpen di koran dan menemukan banyak cerpen yang berakhir dengan kesedihan maupun bahagia, namun kita akan jarang menemukan cerpen-cerpen dengan humor yang mampu memancing tawa, bahkan menghibur para pembacanya. Terlebih menjadi hiburan akhir pekan bagi para pembacanya. Kejenuhan itu yang dirasakan oleh Gunawan Tri Atmodjo, penulis buku Sundari Keranjingan Puisi, yang kemudian memutuskan untuk menyisipkan humor dalam cerpen-cerpennya.

Mitos Sastra dan Kutukan Seorang Penulis (Dimuat di Radar Mojokerto, Jawa Pos Group 15 Mei 2016)

Sebelum saya posting cerita ini, ada sedikit cerita tentang esai saya. Saya pernah mendengar bahwa ada seorang teman baik yang tak tega hati untuk mengkritik esai saya. Dia bilang esai saya cethek, kurang pendalaman, teknik nulisnya juga hanya cari data asal tempel. Saya sempat agak down mendengar itu, bukan karena kritiknya, tapi karena dia teman baik saya yang tak berani mengutarakan langsung kepada saya. Kenapa? Sampai akhirnya saya sadar kok, tulisan saya tidak sempurn. Jadi bila ada kritik atau apa, silakan sampaikan langsung pada saya, itu demi kebaikan saya :) Terima kasih. =======================================================================

Mendobrak Dogma “Like” menjadi Ukuran Sebuah Karya (Dimuat di Radar Mojokerto, 20 Maret 2016)

Mendobrak Dogma “Like” menjadi Ukuran Sebuah Karya Oleh: Endang Indri Astuti             Dalam sebuah komunitas menulis, sebuah dogma berkembang bahwa like adalah salah satu ukuran penilaian karya tulis. Mengesampingkan penilaian EYD, isi karya, maupun teknik menulis lainnya. Terlebih jika sebuah tulisan tersebut dilike maupun dikomentari oleh pemilik grup yang notabenenya adalah seorang penulis nasional. Mirisnya beberapa anggota mengamininya, bahwa ukuran sebuah karya yang bagus ditentukan dari banyaknya like dan komentar dari anggota grup yang berkisar 130 ribu orang tersebut. Bahkan ada yang berpikiran, sebuah karya tak perlu ada pengujian ketat, seperti lewat media, maupun sebuah penerbit.

Rahasia Menulis Ken Hanggara (Dimuat di Radar Mojokerto, Minggu 13 Desember 2015

Kembali, cerpen terbaru milik Ken Hanggara yang berjudul Bidadari Tersesat dimuat di salah satu media lokal beberapa hari yang lalu. Bukan hanya itu, hampir setiap bulan, bahkan minggu, ada saja karya Ken Hanggara yang dimuat di koran lokal maupun nasional. Hal itu jelas membuat para penulis iri, terutama penulis pemula seperti saya sekaligus kagum dengan karya-karya yang berhasil Ken Hanggara torehkan. Pasalnya, tak mudah untuk menembus satu karya saja terbit di media, apalagi bisa setiap seminggu sekali karya kita dimuat di sana, cukup sulit. Namun tampaknya berbeda dengan Ken Hanggara, jauh di benak saya selalu bertanya-tanya, apa yang menjadi rahasia menulis dari lelaki yang satu ini? Pada akhirnya pertanyaan saya terjawab lewat kelas online di salah satu grup Antologi es Campur, Ken menjadi pengisi acara di sana. Dan akhirnya saya mendapati satu rahasia Ken dalam menembus media, baik lokal maupun nasional. Penampakan di Radar Mojokerto :) Ken Hanggara atau yang akra...