Langsung ke konten utama

Tiwas Pede (Dimuat di Ah Tenane, Solopos 18 Februari 2016)

Sabtu sore, sepulang jagong di salah satu gedung di Solo, Lady Cempluk langsung pergi ke salah satu toko buku yang berada di lantai tiga sebuah Mall gaul di kota ini. Tanpa ganti baju dulu, masih dengan dandannya sesusai jagong dengan pedenya dia memaduki toko buku tersebut. Beberapa karyawan yang sempat melihat kedatangannya banyak yang melihatnya sambil prengas-prenges   tak jelas. Lady Cempluk yang udah kepalang pede dengan penampilannya yang cantik pun tak peduli.
            Dengan santai dia memilih beberapa novel lalu membawanya ke kasir. Di kasir pun, seorang pelayan bernama Jon Koplo, terlihat dari namanya di name tag juga seperti menertawakannya.
            Ngopo sih Mas, ngguya-ngguyu wae. Aku ayu tho?” gumam Lady Cempluk dengan pedenya. Beberapa pengunjung yang melihat Lady Cempluk pun turut menertawakannya. Lady Cempluk yang merasa risih diperhatikan seperti itu pun langsung bertanya kepada Jon Koplo, si penjaga kasir.
            “Nggak papa kok, Mbak. Hanya saja ehm … anu … ehm .. eng ….,” ujar Jon Koplo ragu mengatakannya.
            “Anu-anu apa? Ngomong yang jelas dong,” gumam Lady Cempluk. Jon Koplo tak menjawab, dia malah memberikan sebuah cermin kepada Lady Cempluk. Betapa kagetnya Lady Cempluk ketika mengetahui ada coretan hitam di wajahnya.
            “Pasti gara-gara cipika-cipiki sama nganten tadi,  jadinya paesnya ke mana-mana,” ujarnya kesal. Dengan malu dia menutup wajahnya dengan tas keluar dari toko buku.

*ini adalah tulisan saya sebelum proses pengeditan :)

Komentar