Langsung ke konten utama

Postingan

Hwarang. Harta, Tahta dan Cinta

Halo,anyeong, halah. Lama nggak ngasih review film atau drama korea nih. Jadi kangen. Kali ini saya bakal bawain review salah satu drama korea yang keren banget. Dibintangi oleh para aktor Korea yang gantengnya enggak ketulungan. Enggak nanggung-nanggung drama ini menghadirkan tujuh aktor Korea yang masih muda, ganteng dan tentunya bikin hati para pecinta drakor klepek-klepek.

Story Of Kelas Inspirasi Klaten 2: Episode 1 Briefing dan Hampir Gagal Ikutan.

Februari yang penuh cinta bagi saya. Bukan karena valentine sih. Jomblo kok mikirin valentine. Mana ada yang mau ngasih cokelat. Hehe. Tapi saya dapat bunga kok, maklum, duta persahabatan se-RT-RW.

Bernard Batubara dan Metafora Padma

“Yang pertama harus kamu tahu, tidak semua orang bisa tersentuh dengan apa yang kamu tulis. Jadi ketika suatu saat nanti tulisanmu belum bisa menyentuh hati orang lain, tidak apa, kamu masih bisa mencobanya lagi. Cara terbaik agar tulisanmu menyentuh hati orang lain adalah buatlah tulisan yang bisa menyentuh diri sendiri, kuncinya adalah dengan jujur pada diri sendiri,” ungkap Bernard Batubara dalam acara Menyingkap Metafora Padma di Gramedia Solo minggu kemarin. Dalam kesempatan talkshow yang berlangsung selama dua jam kemarin, Bernard Batubara atau yang lebih akrab disapa Benz bicara soal buku terbarunya yang berjudul Metafora Padma. Merupakan buku terbaru Benz yang berisikan 14 cerpen yang ditulisnya dalam kurun waktu 2014-2016. Metafora Padma bisa dibilang salah satu karya Bernard yang bisa dibilang menyimpang dari karya-karya sebelumnya. Jika sebelumnya Bernard dikenal dengan buku-buku romancenya seperti Kata Hati, Jika Aku Milikmu, Jatuh Cinta adalah Cara Terbaik Un...

Cerpen Perkenalan (Flores Sastra, 17 November 2016)

Aku terbangun dini hari. Kurasakan seseorang menarik-narik kerah bajuku. Tapi k etika aku menoleh, Ragiel tengah tertidur pulas menghadap arah yang berlawanan. Firasatku tidak enak. Sejak pertama masuk ke rumah ini, aku merasakan ada sesuatu yang berbeda.   Ragiel satu-satunya teman laki-laki yang kukenal di Jogja. Sebenarnya temanku banyak, namun aku hanya dekat pada Ragiel saja. Sebulan yang lalu aku menyampaikan pada Ragiel dan beberapa temanku bahwa aku akan ke Jogja. Tujuan utamaku adalah mengambil honor di salah satu koran sekalian jalan-jalan. Beberapa teman menawariku tempat tinggal selama aku berada di Jogja. Namun, aku lebih memilih tinggal bersama Ragiel untuk beberapa hari ke depan. Sepertinya, sekarang aku sedikit menyesali keputusanku menerima tawaran Ragiel.

Esai "Sastra, Humor, dan Realita" (Dimuat di Radar Mojokerto, 4 Desember 2016)

"Menulis adalah cara saya menghibur diri sendiri. Seseorang tidak bisa menghibur orang lain jika tidak bisa menghibur dirinya sendiri." (Gunawan Tri Atmodjo). 1. Sastra dan Humor Seringkali kita membaca cerpen di koran dan menemukan banyak cerpen yang berakhir dengan kesedihan maupun bahagia, namun kita akan jarang menemukan cerpen-cerpen dengan humor yang mampu memancing tawa, bahkan menghibur para pembacanya. Terlebih menjadi hiburan akhir pekan bagi para pembacanya. Kejenuhan itu yang dirasakan oleh Gunawan Tri Atmodjo, penulis buku Sundari Keranjingan Puisi, yang kemudian memutuskan untuk menyisipkan humor dalam cerpen-cerpennya.

Menjajal Sastra di Jalur Basabasi (Harian Surya, 23 November 2016)

Mendengar nama Diva Press sebagai salah satu penerbit di Indonesia, tentunya tidak asing lagi, terlebih mendengar nama Pak Edi Mulyono atau Edi A.H. Iyuhbenu sebagai pemiliknya. Kini, Divapress mengusung satu penerbit baru yang menjadi wadah bagi para penulis. Penerbit yang sebelumnya bernama Pelangi, lalu berganti menjadi Penerbit Basabasi ini seperti memberikan angin segar di jalur indie. Jika biasanya menerbitkan naskah secara indie, par a penulis harus membayar biaya untuk naskahnya, maka tidak bagi naskah-naskah yang diterima di penerbit Basabasi. Penulis justru dibayar jika naskahnya lolos seleksi. Tentunya dengan seleksi ketat yang dilakukan oleh Pak Edi Mulyono, Kian Santang, Joni Ariadinata dan para kurator Basabasi. . Dalam Roadshow sastra perjuangan yang diadakan di Balai Sudjatmoko (19/11) Pak Edi mengungkapkan bahwa memerjuangkan sastra di negeri ini memang tidaklah mudah, tapi berkat dukungan dari teman-temannya dan tentunya untuk dunia literasi sendiri...

Review Film; Train To Busan, Ketika Perjalanan ke Busan Harus Dihadapkan dengan Zombie

Terakhir nonton film yang bikin nangis itu Nonton Kal Hoo Na Ho, tapi pagi ini saya bisa nangis gara-gara nonton film ini. Padahal genrenya horor, thriller loh, tapi pesan moralnya dapet banget. Adegan pembukanya langsung bikin deg-degan. FIlm ini mengajarkan kita untuk tidak menjadi pribadi yang egois. Yang bikin kagum itu Mbaknya yang hamil gedhe bisa lari loh waktu dikejar zombie. Ini lucu-lucu dramatis gimana gitu.