Langsung ke konten utama

Postingan

Menjadi Kartini di Desa Klurak Baru

Bagaimana menjadi seorang kartini di desa orang lain? Wah … kok bisa? Ini pengalaman saya pas hari Sabtu kemarin. H-1 Kampus Fiksi Emas. Gak kebayang kan kamu ikutan acara Kartinian bukan di desamu? Tapi seru-seru banget, karena yang namanya Kartini kan gak kenal tempat, mau di daerah sendiri, di desa sendiri, di negara sendiri maupun di negara orang lain tetap saja Kartini Indonesia tetap memiliki jiwa cinta tanah air.

Diary di Hari Ulang Tahun Ibu

Baiklah … hari ini saya sukses membuat ibu menangis di pagi hari. Tapi bukan menangis karena menyakitinya, bukan, tapi karena dia terharu melihat keromantisan saya pagi ini. Hiks. Hanya bermodalkan secarik kertas berisi puisi yang saya tulis sendiri dan sekotak Brownies cokelat, ah itu brownies atau kue tart. Halah saya gak bisa ngebedainnya. Hanya bermodalkan itu, ibu sukses terharu. Saya juga ikutan nangis. Heu … heu … hiks …

Diary “Ritual Lapaong Astral”

Apaan itu Ritual Lapaong Astral? Eits … jangan mikir yang aneh-aneh gitu. Ini bukan ritual yang berhubungan dengan dunia mistis dan lain sebagainya. Om Yuditeha lagi membuka acara. Dia juga sering disebut "Bos Genk" :) Jum’at kemarin saya baru dari Solo, bias jalan-jalan *muka songong. Halah sok banget ya? Hehehe. Suatu kehormatan saya bisa menghadiri acara sastra yang di dalamnya mempertemukan saya dengan mas-mas ganteng unlimited. Cie … giliran disinggung Mas Ganteng aja pada semangat. Banyak cerita lucu yang tak banyak diketahui orang, mulai dari berangkat ke Wisma TBJT hingga acara itu selesai tetap saja euforianya masih membekas.

Mendobrak Dogma “Like” menjadi Ukuran Sebuah Karya (Dimuat di Radar Mojokerto, 20 Maret 2016)

Mendobrak Dogma “Like” menjadi Ukuran Sebuah Karya Oleh: Endang Indri Astuti             Dalam sebuah komunitas menulis, sebuah dogma berkembang bahwa like adalah salah satu ukuran penilaian karya tulis. Mengesampingkan penilaian EYD, isi karya, maupun teknik menulis lainnya. Terlebih jika sebuah tulisan tersebut dilike maupun dikomentari oleh pemilik grup yang notabenenya adalah seorang penulis nasional. Mirisnya beberapa anggota mengamininya, bahwa ukuran sebuah karya yang bagus ditentukan dari banyaknya like dan komentar dari anggota grup yang berkisar 130 ribu orang tersebut. Bahkan ada yang berpikiran, sebuah karya tak perlu ada pengujian ketat, seperti lewat media, maupun sebuah penerbit.

Tiwas Pede (Dimuat di Ah Tenane, Solopos 18 Februari 2016)

Sabtu sore, sepulang jagong di salah satu gedung di Solo, Lady Cempluk langsung pergi ke salah satu toko buku yang berada di lantai tiga sebuah Mall gaul di kota ini. Tanpa ganti baju dulu, masih dengan dandannya sesusai jagong dengan pedenya dia memaduki toko buku tersebut. Beberapa karyawan yang sempat melihat kedatangannya banyak yang melihatnya sambil prengas-prenges     tak jelas. Lady Cempluk yang udah kepalang pede dengan penampilannya yang cantik pun tak peduli.             Dengan santai dia memilih beberapa novel lalu membawanya ke kasir. Di kasir pun, seorang pelayan bernama Jon Koplo, terlihat dari namanya di name tag juga seperti menertawakannya.             “ Ngopo sih Mas, ngguya-ngguyu wae. Aku ayu tho? ” gumam Lady Cempluk dengan pedenya. Beberapa pengunjung yang melihat Lady Cempluk pun turut menertawakannya. Lady Cempluk yang merasa risi...

Sumpah Palapa Penulis (Dimuat di Harian Surya, 24 Februari 2016)

Ada pemandangan tak biasa ketika saya mengikuti Workshop menulis bersama FLP Solo Jum’at 12 Februari lalu. Pasalnya saya seperti peserta lomba yang tersesat diantara puluhan anak-anak SD. Ini beneran lomba cernak untuk umum bukan sih, kok pesertanya anak-anak SD? Saya yang paling besar sendiri dong.

Surat Terbuka untuk Kiko Insa (Dimuat di Harian Surya, 7 Maret 2016)

Reportase : Endang Indri Astuti Pegiat literasi/Aremanita Klaten twitter @queenlionade Kepergian Kiko Insa dari Arema meninggalkan banyak cerita. Keputusan pelatih yang tiba-tiba dan hengkangnya Kiko Insa dari Arema tentunya mengagetkan. Terlebih bagi saya yang mencintai klub berjuluk singo edan tersebut. Hari-hari saya dipenuhi dengan banyak tulisan di beranda media sosial dengan hastag #SAVEKIKO, bahkan tak jarang ada perbedaan pendapat antar Aremania sendiri. Saya sedikit miris, karena dengan hengkangnya Kiko, kita kehilangan pilar lagi setelah kehilangan Samsul Arif dan Purwaka Yudi ke Persib yang juga terkesan mendadak.